Di tengah derasnya arus digitalisasi pendidikan, SMP Hasanuddin Wajak Kabupaten Malang menjadi sorotan setelah mengambil langkah berani untuk bertransformasi menuju sekolah modern dan berdaya saing tinggi. Selama ini, sekolah tersebut menghadapi tantangan serius karena belum memiliki kehadiran digital yang kuat, seperti situs web profesional atau media sosial yang aktif. Kondisi itu membuat sekolah kehilangan banyak peluang untuk menarik minat calon siswa di era serba digital ini. Namun, tantangan justru menjadi pemicu perubahan besar. Menyadari pentingnya adaptasi terhadap zaman, SMP Hasanuddin berkomitmen melakukan lompatan strategis melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang dilaksanakan oleh tim dosen dari universitas mitra. Program ini menjadi titik awal kebangkitan sekolah dalam membangun branding digital dan kemampuan technopreneurship di kalangan guru serta siswa.

Kegiatan pengabdian yang dilakukan oleh para dosen S1 Bisnis Digital Universitas Negeri Surabaya ini berlangsung pada Rabu, 18 Juni 2025, dan melibatkan lima dosen profesional yang diketuai oleh Dr. Dhiyan Septa Wihara, S.P., M.M. dan beranggotakan Hujjatullah Fazlurrahman, S.E., M.B.A.; Achmad Kautsar, S.E., M.M. ; Hafid Kholidi Hadi, S.E., M.SM. ; dan Muhammad Fajar Wahyudi Rahman, S.E., M.M. Mereka bukan hanya datang untuk mengajar, tetapi juga membimbing dan mendampingi guru-guru SMP Hasanuddin agar mampu bertransformasi menjadi tenaga pendidik adaptif dan visioner.

Dalam kegiatan ini, dua materi utama disajikan dengan penuh semangat. Materi pertama adalah penguatan skill presentasi bagi guru SMP Hasanuddin, sebuah topik yang dianggap krusial oleh kepala sekolah. Hasil survei awal menunjukkan bahwa kemampuan guru dalam mempresentasikan sekolah kepada calon wali murid masih belum optimal. Karena itu, pelatihan ini menitikberatkan pada teknik komunikasi yang persuasif, atraktif, dan profesional. Materi kedua tak kalah menarik, yaitu penguatan technopreneurship berbasis digital. Dalam sesi ini, para guru diperkenalkan pada strategi penggunaan media digital untuk menunjang kegiatan promosi sekolah. Tidak hanya tentang teknologi, tetapi juga bagaimana menciptakan konten kreatif dan inovatif yang mampu menarik perhatian masyarakat luas.
Kedua materi ini dirancang sebagai satu kesatuan yang saling melengkapi. Jika penguatan presentasi membantu guru berbicara dengan percaya diri, maka technopreneurship memberikan mereka alat digital untuk memperkuat pesan dan membangun citra sekolah yang modern. Kombinasi ini diharapkan melahirkan guru-guru yang tak hanya pintar mengajar, tetapi juga pandai memasarkan dan memajukan sekolah.

Antusiasme guru dan pihak sekolah luar biasa. Kepala sekolah SMP Hasanuddin menyampaikan apresiasi tinggi kepada tim dosen yang telah memberikan wawasan baru dan semangat transformasi bagi seluruh tenaga pendidik. “Kegiatan ini membuka mata kami bahwa promosi sekolah bukan sekadar formalitas, tetapi strategi masa depan untuk keberlanjutan lembaga pendidikan,” ujarnya penuh semangat.
Tim dosen pengabdian menegaskan bahwa kegiatan seperti ini tidak boleh berhenti hanya sekali. Mereka menyarankan agar pelatihan serupa dilakukan secara berkala dan tematik, sesuai kebutuhan dan tantangan yang sedang dihadapi sekolah. Dengan demikian, guru-guru SMP Hasanuddin dapat terus meningkatkan kapasitas diri dan kemampuan menghadapi perubahan zaman. Lebih jauh, kegiatan ini menjadi simbol sinergi antara dunia akademik dan dunia pendidikan dasar. Para dosen tidak hanya berbagi ilmu, tetapi juga menjadi mitra strategis dalam membangun ekosistem pendidikan berbasis digital di daerah. Sinergi ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah menengah dapat menghasilkan dampak nyata bagi pengembangan SDM pendidikan. Dengan semangat perubahan dan dukungan berkelanjutan, SMP Hasanuddin siap menjawab tantangan zaman. Bukan hanya untuk menarik siswa baru, tetapi juga untuk meneguhkan perannya sebagai institusi pendidikan unggulan yang berkontribusi nyata bagi masyarakat dan kemajuan bangsa.

